Sabtu, 17 Oktober 2009

ANGKLUNG Alat Musik Tradisional Jawa Barat

Angklung merupakan alat musik kesenian traisional Negara Indonesia, tepatnya didaerah Jawa Barat. Alat musik ini terbuat dari bambu dan cara memainkannya sangat mudah. Hanya dengan mengoyang-goyangkan alat musik tersebut kekiri dan kekanan akan menghasilkan suara. Suara yang dihasilkan berasal dari terbenturnya pipa bambu. Suara yang dihasilkan tidak sembarangan, Bambu yang menghasilkan suara tersebut dibuat dan disusun menjadi alat musik sesuai dengan alunan dan susunan nada. Dalam setiap ukuran besar maupun kecil terdapat 2, 3 sampai 4 susunan nada. Setiap angklung terdiri dari beberapa tabung atau pipa bambu yang berbeda dan diameternya juga berbeda sesuai harmoni nada yang diinginkan. Jumlah pemain angklung bisa dimainkan oleh 50 orang atau lebih bahkan 100 orang dan dapat dipadukan dengan alat musik lainnya baik yang modern ataupun yang tradisional.

  1. Latar Belakang Angklug

Kita ketahui bahwa alat musik tradisional angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat dan terbuat dari bambu. Bambu yang biasanya digunakan dalam pembuatan angklung adalah bambu yang berwarna hitam dan bambu yang berwarna putih atau yang biasa disebut Awi Wulung dan Awi Temen oleh penduduk tanah sunda tersebut. Tiap angklung yang dibuat dapat menghasilkan nada dari tabung bambu yang berbentuk batangan. Setiap ruas dari ukuran kecil hingga ukuran yang besar.

Angklung dikenal masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda yang dijadikan sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Kegunaan angklung sebagai pemberi semangat untuk rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu mengapa pemerintah Hindia Belanda saat itu sempat melarang masyarakat sunda memainkan alat musik angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak saja pada waktu itu.

Awal mula terciptanya angklung kareana adanya ritus padi yaitu mitos atau upacara adat untuk menyambut padi beling atau padi yang berisi (menjelang panen) dan angklung memegang peranan penting. Suara angklung dipercaya oleh masyarakat sunda yang lebih dari masyarakatnya adalah agraris (petani) dapat memikat Dewi Sri (Nyi Sri Pohaci) yaitu dewi padi yang merupakan lambang kehidupan agar turun ke bumi dan membawa kesuburan terhadap tanaman padi para petani dan akan memberikan kebahagian serta kesejahteraan bagi umat manusia. Karena kebanyakan dari masyarakat sunda merupakan petani maka dahulu petani membuat syair-syair dan lagu sebagai persembahan dan penghormatan pada Dewi Pohaci supaya dalam bercocok tanam tidak mengundang malapetaka dalam hal ini adalah hama dan bencana alam lainnya yang akan merusak panen. Lagu persembahan tersebut diiringi dengan bunyi tabuh yang terbuat dari bambu dengan kata lain alat tersebut adalah Angklung. Permainan angklung tersebut kemudian diikuti pula dengan unsur gerak atau tari tarian dengan pola tersentu sesuai denagan upacara penghormatan padi pada saat mengarak padi ke lumbung atau disebut dengan istilah ngampih pare atau nginebkeun dan dilakukan pada saat penen yang disertai permainan angklung dan arak-arakan. Tarian tersebut juga dilakukan pada saat ngaseuk atau mengawali penanaman padi.

Pada 1908 pernah tercatat sebuah misi dalam bidang kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, kemudian angklung sempat popular di negara tersebut. Saat ini bukan hanya di negra Thailand, melainkan seluruh penjuru Asia mengenali angklung.

  1. Jenis Angklung

Angklung gubrag yang dibuat di Jasinga, Bogor, merupakan salah satu dari jenis angklung yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun yang lalu. Angklung ini merupakan angklung yang tertua.Saat ini, beberapa angklung tersebut disimpan di Museum Sri Baduga, Bandung, Indonesia.

Angklung Kanekes merupakan angklung yang terdapat di daerah Kanekes. Penduduk atau masyarakat disana adalah orang Baduy. Sama halnya dengan angklung secara umum, di Kanekes, angklung juga digunakan dalam ritus padi (ritual penanaman dan pemanenan padi). Angklung ini dipakai sesuai atauran, misalnya hanya boleh dimankan saat mengobati padi (ngubaran pare) yaitu sekitar tiga bulan setelah penanaman padi. Dan setelah enam bulan berikutnya semua kesenian tidak diperbolehkan sampai musim penanaman padi berikutnya.

Beda halnya bila angklung digunakan untuk hiburan. Angklung biasanya dimainkan di area luas dan terbuka atau lapangan dan pada saat terang bulan dan tidak hujan untu mengiringi lagu-lagu daerah mereka. Dalam masyarakat Baduy pedalaman, karena masi dibatasi oleh adat dan berbagai aturan (hal yang dianggap tabu oelh masyarakat) tidak memperbolehkan melakukan hal yang berlebihan seperti hiburan. Bagi mereka, keseniang merupakan keperluan ritual saja.

Di daerah Kanekes yang berhak atau yang diperbolehkan membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Dari ketiga kampung tersebut tidak semua orang bisa membuat angklung, hanya yang memiliki keturunan dan yang berhak yang mengerjakannya selain adanya syarat-syarat ritual.

Angklung Dogdog Lojor (penamaan sesuai salah satu dari instrument didalamnya)merupakan angklung yang terdapat di Banten Kidul (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor dan Lebak) yang memiliki masyarakat yang disebut Kasepuhan Pancer Pangawinan. Angklung ini digunakan pada acara ritual padi. Berdasarkan adatnya setiap setahun sekali warga di Banten Kidul mengadakan acara Serah Tahun. Serah tahun ini dilakukan setelah panen. Sejak tahun 1970-an, angklung ini mengalami perkembangan, seperti untuk memeriahkan acara didaerah tersebut.

Angklung Badeng adalah alat seni yang terdapat di Garut. Alat ini biasanya digunakan dalam hiburan untuk kepentingan dakwah islam. Akan tetapi masyarakat Garut mempercayai bahwa angklung tersebut digunakan dalam ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17.

Buncis merupakan kesenian Priangan atau Bandung yang digunakan dalam upacara ritual pengangkatan padi dari lumbung. Akan tetapi kesenian buncis tidak lagi digunakan dalam ritual, akan tetapi digunakan dalam hiburan.

Dari jenis angklung diatas, masih banyak lagi jenis angklung di jawa barat. Akan tetapi semakin berkembangnya zaman, hanya sedikit orang yang mengembangkan angklung. Pada abad ke- 20, angklung tradisional mulai menghilang. Pada tahun 1938, Daeng Sutigna, seorang guru berpendidikan Belanda di Bandung, menciptakan angklung dalam tangga nada diatonis yang terdiri dari tujuh nada. Hal ini menandai lahirnya angklung modern. Kelebihan angklung ini adalah tidak hanya dapat memainkan lagu tradisional saja, akan tetapi angklung ini juga dapat membawakan lagu-lagu Barat klasik dan populer yang rata-rata bernada diatonis, seingga dapat dinikmati oleh seluruh kalangan.

Daeng Sutigna pertama kali memperkenalkan angklung modern ini kepada anak-anak pramuka. Permainan angklung ini sempat dipertunjukan di Konferensi Asia Afrika oleh anak –anak sekolah pada tahun 1955 di Bandung. Hingga saat ini masyarakat semakin mengenal angklung, bahkan angklung dijadikan kegiatan ekstrakurikuler diberbagai sekolah. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dengan Surat Keputusan Nomor 082/1968 tertanggal 23 Agustus 1968, telah menetapkan bahwa angklung sebagai alat pendidikan musik di lingkungan DEPDIKBUD. Yang menjadi bahan pertimbangan sehingga angklung dipandang perlu untuk ditetapkan sebagai alat pendidikan musik :

a. Angklung sebagai alat pendidikan menonjol dalam pembentukan karakter, seperti gotong royong, disiplin, kecermatan, ketangkasan, tanggung jawab, serta dalam pendidikan seni suara khususnya, angklung dapat membangkitkan perhatian terhadap musik, menghidupkan musikalitas, mengembangkan rasa irama, rasa melodi, harmoni, dan lain-lain.

b. Walaupun belum merupakan alat musik yang cukup sempurna, namun angklung dapat dipertanggungjawabkan sebagai alat pelajaran pendidikan.

Yang dimaksud dengan “Angklung” pada Surat Keputusan Mendikbud itu, ialah apa yang dikenal masyarakat dengan nama “Angklung Padaeng” yang bertangga nada diatonis kromatis.

“Padaeng” ialah singkatan dari Bapak Daeng Soetigna yaitu orang yang menciptakan alat musik angklung bertangga nada diatonis kromatis (Angklung Modern). Dan untuk mempertahankan kebudayaan Jawa Barat terutama angklung, pada tanggal 26 Agustus 2009, angklung didaftarkan pada UNESCO untu mendapatkan hal paten. Akan tetapi masih menunggu tahap verifikasi dari pihak UNESCO.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar